Minggu yang Tetap Menyala: Ketika Agus dan Budi Menjaga Demokrasi dari Sudut Perpustakaan Desa
|
Minggu pagi, 3 Mei 2026. Saat sebagian orang menikmati waktu istirahat, dua sosok ini justru memilih tetap bergerak. M. Agus Riyanto dan Budi Taryono, staf Bawaslu Indramayu, tampak sibuk berdiskusi, membuka catatan, dan sesekali menatap ruang perpustakaan sederhana yang sebentar lagi akan memiliki peran baru.
Hari itu, mereka mematangkan langkah kecil yang menyimpan harapan besar: penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Bawaslu Kabupaten Indramayu dan Perpustakaan S16 di Leuwigede, Kecamatan Widasari, sebuah ruang literasi yang didirikan oleh Ahmad Khoeri.
Bagi Agus dan Budi, hari Minggu bukan alasan untuk berhenti. Ada tanggung jawab yang lebih besar, yakni upaya menjaga agar kesadaran pengawasan partisipatif tetap hidup di tengah masyarakat.
Dalam briefing sebelumnya, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas, Supriadi, menegaskan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat membaca. Lebih dari itu, di perpustakaan bisa menjadi ruang tumbuhnya kesadaran demokrasi.
“Pojok Pengawasan Literasi Demokrasi akan menjadi ruang bertemunya ide, diskusi, dan rasa ingin tahu. Di sana, masyarakat mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga komunitas, bisa mengakses berbagai bahan bacaan dan media pembelajaran tentang demokrasi,” ujar Supriadi.
Kolaborasi ini mungkin tampak sederhana. Namun justru dari ruang-ruang seperti inilah demokrasi menjadi dekat, tidak lagi terasa jauh atau rumit, melainkan hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
Langkah ini boleh jadi kecil. Tetapi dari langkah-langkah kecil itulah kesadaran besar sering tumbuh. Dan di Minggu yang sunyi, Agus dan Budi menunjukkan satu hal: menjaga demokrasi tak pernah mengenal hari libur.
Editor : Aas Adiwijaya/Vikyi Noviandi